Semua berita
Gotong Royong

Warga Oma–Wassu Buka Akses Jalan Terdampak Longsor, Pemerintah Didesak Segera Bertindak

Setelah dua tahun tanpa kepastian penanganan, warga Oma dan Wassu bergotong royong membersihkan material longsor sekaligus mendesak pemerintah segera menuntaskan persoalan jalan tersebut.

31 Juli 2026 Pemerintah Negeri Wassu… kali dilihat

Bagikan Kabar Ini

Sebarkan informasi ini kepada keluarga dan masyarakat.

Facebook WhatsApp

Warga Negeri Oma dan Wassu bergotong royong di jalan pesisir Pulau Haruku
Kebersamaan warga Oma dan Wassu saat membuka kembali ruas jalan yang terdampak longsor.

Warga Negeri Oma dan Negeri Wassu bergotong royong membersihkan material longsor yang menghambat ruas jalan penghubung kedua negeri di Pulau Haruku. Dengan peralatan sederhana, masyarakat turun langsung memindahkan batu dan tanah guna membuka kembali akses yang digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Aksi tersebut mencerminkan tingginya kepedulian, solidaritas, dan tanggung jawab sosial masyarakat terhadap kepentingan bersama. Namun, pada saat yang sama, kerja sukarela warga menjadi pengingat keras bagi instansi terkait bahwa persoalan keselamatan dan keberlanjutan infrastruktur di ruas Oma–Wassu belum memperoleh respons cepat dan penanganan yang memadai.

Gotong royong masyarakat patut diapresiasi, tetapi tidak dapat diposisikan sebagai penyelesaian permanen. Penanganan material longsor, pengamanan tebing, serta penyelesaian pembangunan jalan membutuhkan kewenangan, dukungan teknis, alat berat, dan pembiayaan pemerintah.

Dua Tahun Tanpa Kepastian Penanganan

Material longsor telah mengganggu ruas jalan penghubung Oma–Wassu selama kurang lebih dua tahun. Hingga 31 Juli 2026, masyarakat masih harus mengandalkan tenaga sendiri dan peralatan seadanya untuk membersihkan batu serta tanah dari badan jalan.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan material longsor. Pembangunan ruas jalan yang telah terhenti selama beberapa tahun juga belum menunjukkan kelanjutan yang jelas. Kondisi ini memaksa masyarakat tetap menggunakan jalur yang belum diselesaikan dan belum dilengkapi pengamanan sesuai kebutuhan keselamatan pengguna jalan.

Ketidakpastian pembangunan menimbulkan pertanyaan mengenai status pekerjaan, instansi yang bertanggung jawab, tahapan yang belum diselesaikan, serta jadwal penanganan berikutnya. Pemerintah perlu memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat, termasuk mengenai kemungkinan kendala anggaran, persoalan teknis, status program pembangunan, maupun kebutuhan perencanaan ulang.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Pemerintah Provinsi Maluku, serta kementerian dan lembaga teknis pemerintah pusat sesuai kewenangan masing-masing didesak segera meninjau kondisi lapangan dan menetapkan langkah penanganan. Tindakan tidak semestinya baru dilakukan setelah terjadi korban, akses terputus sepenuhnya, atau aktivitas masyarakat mengalami kelumpuhan.

Gotong Royong Bukan Pengganti Tanggung Jawab Pemerintah

Warga Oma dan Wassu telah menunjukkan kepedulian nyata dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan sumber daya untuk membuka akses jalan. Inisiatif tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial masyarakat sekaligus sindiran yang patut menjadi bahan evaluasi bagi instansi terkait atas lambannya penanganan persoalan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Pemindahan batu berukuran besar, stabilisasi lereng, perbaikan badan jalan, dan pembangunan sarana pengaman tidak dapat terus dibebankan kepada masyarakat. Pekerjaan tersebut memerlukan kajian teknis, alat berat, tenaga profesional, serta dukungan anggaran yang menjadi tanggung jawab pemerintah sesuai kewenangannya.

Ruas jalan Oma–Wassu memiliki fungsi penting bagi mobilitas harian warga, distribusi hasil bumi dan kegiatan ekonomi, akses layanan kesehatan dalam keadaan darurat, serta pemeliharaan hubungan silaturahmi dan sosial antarnegeri di Pulau Haruku. Karena itu, keselamatan dan kelayakan jalur tersebut harus menjadi perhatian bersama dan memperoleh prioritas penanganan.

Tindakan Konkret yang Dibutuhkan

Masyarakat membutuhkan tindak lanjut yang jelas, terukur, dan dapat dipantau. Langkah-langkah yang perlu segera dilaksanakan meliputi:

  • Pemeriksaan teknis. Instansi berwenang harus melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi tebing, badan jalan, dan potensi pergerakan material susulan.
  • Pembersihan material. Sisa batu dan tanah harus dibersihkan menggunakan alat yang memadai agar pekerjaan berlangsung aman dan efektif.
  • Pengamanan sementara. Rambu peringatan, pembatas, dan langkah pengamanan darurat harus dipasang pada titik-titik rawan untuk melindungi pengguna jalan.
  • Penguatan lereng dan drainase. Pemerintah harus membangun sistem pengaman lereng serta saluran drainase yang sesuai dengan kondisi teknis kawasan.
  • Kepastian status pembangunan. Pemerintah harus memeriksa dan menjelaskan status pekerjaan jalan yang telah terhenti selama beberapa tahun.
  • Anggaran dan jadwal pekerjaan. Instansi terkait harus menetapkan dukungan anggaran, tahapan pekerjaan, dan jadwal penyelesaian penanganan permanen.
  • Keterbukaan informasi. Perkembangan penanganan harus disampaikan secara berkala dan terbuka kepada masyarakat Oma, Wassu, dan pengguna jalan lainnya.

Penanganan darurat dan pembangunan permanen harus direncanakan sebagai satu rangkaian kebijakan. Pembersihan badan jalan tanpa pengurangan risiko dari lereng hanya akan membuka kemungkinan terulangnya persoalan serupa ketika hujan lebat atau pergerakan tanah kembali terjadi.

Keselamatan Masyarakat Harus Diutamakan

Gotong royong warga telah membantu membuka sebagian akses. Meskipun demikian, pengguna jalan tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena kondisi lereng, batu yang belum stabil, permukaan jalan, dan perubahan cuaca masih berpotensi menimbulkan bahaya sewaktu-waktu.

Masyarakat mengharapkan kehadiran pemerintah tidak berhenti pada peninjauan lokasi. Pemerintah harus membawa keputusan, dukungan teknis, pembiayaan, serta kepastian waktu pelaksanaan. Publik berhak mengetahui instansi yang bertanggung jawab, pekerjaan yang akan dilakukan, dan target penyelesaiannya.

Seruan Tegas dari Pulau Haruku

Kabar Wassu menyampaikan seruan masyarakat agar kondisi ruas jalan Oma–Wassu tidak terus dibiarkan tanpa kepastian. Dokumentasi gotong royong warga menunjukkan bahwa persoalan tersebut nyata, telah berlangsung lama, dan membutuhkan tindakan segera dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat sesuai kewenangan masing-masing.

Masyarakat Oma dan Wassu telah melaksanakan bagian yang mampu dikerjakan secara swadaya. Kini saatnya pemerintah menunjukkan tanggung jawab melalui penanganan yang cepat, terukur, aman, dan berkelanjutan demi menjamin kepentingan masyarakat serta kelancaran hubungan antarnegeri di Pulau Haruku.

Bagikan Kabar Ini

Sebarkan informasi ini kepada keluarga dan masyarakat.

Facebook WhatsApp

Dokumentasi Video

Penyampaian Raja Negeri Wassu

Penyampaian Raja Negeri Wassu terkait kondisi longsor dan penanganan akses jalan Oma–Wassu.
Dokumentasi Kegiatan
Warga berkumpul di ruas jalan pesisir yang terdampak longsor
Warga berkumpul di sepanjang ruas jalan pesisir untuk membuka kembali akses.
Warga mengamati batu besar yang menutup bagian jalan
Batu berukuran besar menjadi tantangan utama dalam pembersihan jalan.
Warga Oma dan Wassu memenuhi lokasi kegiatan gotong royong
Kegiatan gotong royong melibatkan banyak warga dari Oma dan Wassu.
Warga bekerja bersama di bawah tebing jalan lintas Pulau Haruku
Pembersihan material longsor dilakukan bersama dengan peralatan sederhana.
Kabar Wassu

Temukan cerita lain dari negeri.

Lihat semua berita
Lanjut Membaca
Pemandangan udara kawasan Pelabuhan Kailolo dan perairan di sekitarnya
Informasi Transportasi
6 Agustus 2026

Jadwal Operasional KMP Samandar Bulan Agustus 2026

Simak jadwal keberangkatan KMP Samandar untuk rute Waai, Kailolo, Umeputih, Nalahia, dan Masohi selama Agustus 2026.

Baca cerita